Senidi Era Digital. Diera digital sperti saat ini banyak perubahan yang terjadi hampir disemua aspek kehidupan. Salah satunya penggunakan media digital untuk membuat sebuah karya seni. Seperti yang kira ketahui bahwa pada zaman dahulu membuar kerya seni seperti mengabadikan alam dengan melukis menggunkan kain vas dan kuas.
Perkembanganseni digital tidak terlepas dari Electronic Numerical Integrator and Computer atau ENIAC yang merupakan komputer pertama, diciptakan untuk keperluan militer pada tahun 1940-an. Namun, seniman pertama mulai mengeksplorasi seni dengan komputer dan teknologi di akhir 1950-an dan awal 1960-an.. Pada akhir 1960-an, beberapa museum mengadakan pameran mengeksplorasi seni menggunakan
Kita sudah sampai pada masa dimana hampir semua bidang dimudahkan dengan adanya teknologi, khususnya internet. Orang-orang biasa menyebutnya sebagai era digital, bahkan pemerintah sudah pernah mendaklarasikan keinginannya untuk merevolusi semua industri ke tahapan yang lebih tinggi, yakni Industri Namun, sudahkan kita memahami apa itu era digital? Apa saja dampak dan juga manfaatnya dari adanya teknologi digital satu ini? simak artikel berikut ini. Era digital adalah sebuah masa atau zaman dimana hampir seluruh bidang dalam tatanan kehidupan sudah dibantu dengan teknologi digital. Istilah ini juga bisa di artikan sebagai munculnya teknologi digital yang menggantikan teknologi-teknologi yang sebelumnya sudah digunakan mekanik dan elektronik analog oleh manusia. Era digital adalah era yang serba menggunakan teknologi. Salah satu contoh paling dekat dan pastinya semua orang tahu adalah bagaimana internet telah mengubah banyak hal. Tidak hanya bagaimana cara kita dalam berkomunikasi dan berinteraksi, namun juga berhasil memperngaruhi landcape bisnis yang ada di Indonesia, bahkan juga dunia. Peralihan masa teknologi mekanik dan elektro analog ke digital yang disambut dengan sangat baik oleh masyarakat, serta perkembangan teknologi yang sangat pesat membuat berbagai kemudahan bisa kita rasakan, bahkan tanpa ada batasan lagi. Yang dulunya bersifat lokal, gini sudah beralih ke cakupan yang lebih luas, bahkan global. Kita bisa dengan sangat mudah untuk berkomunikasi, membeli, dan mengetahui kabar dari tempat yang secara geografis sangat jauh dengan tempat tinggal kita. Dan masih banyak kemudahan lainnya. Perkembangan Digitalisasi di Indonesia Harus kita akui bahwa teknologi digital bisa memberikan beberapa kemajuan untuk masyarakat Indonesia, meskipun dari segi infrastruktur kita masih jalan dengan terseok-seok. Hal ini juga didukung dengan atusiasme masyarakat untuk hidup bersandingan dengan teknologi digital, dimana telpone pintar dan penetrasi internet menjadi salah satu faktor kenapa masyarakat bisa dengan sangat cepat beradaptasi dengan hal ini. Perkembangan lain bisa kita lihat dari adanya payung hukum tekait Undang-Undang ITE. Meskipun di internet tidak ada batasan ruang dan waktu, namun ada sebuah sistem baru yang dibentuk agar kebebasan tersebut tidak keluar jalur, dan justru menjadi mala petaka bagi masyarakat sendiri. Beberapa orang mengatakan bahwa Indonesia memang terlambat dalam mengadopsi teknologi, khususnya internet. Namun yang sama-sama kita lihat sampai sejauh ini, masyarakat bisa dengan sangat cepat menerima perkembangan yang ada dan masuk didalamnya. Contohnya seperti pada awal masa peralihan ke era digital dimana media masa mentransformasikan aktivitasnya kedalam bentuk digital. Mereka yang dulunya rutin mengeluarkan editorial dalam cetakan, kini mulai menghentikan proses tersebut dan beralih menggunakan platform online seperti halnya website dan platform berbagi video. Setelah media masa bertransformasi, bidang lain juga ikut betransformasi, salah satunya pasar ritel yang mulai beralih ke media digital seiring dengan adanya beberapa marketplece seperti bukalapak dan tokopedia. Selanjutnya, era apps startup yang tumbuh dengan sangat masif, beberapa diantaranya ada yang berhasil menjadi unicorn, dual corn, dan seterusnya. Sebut saja traveloka dan Gojek yang menjadi salah satu inspirasi perusahaan apps di Indonesia. Dampak Positif dan Negatif Teknologi Digital Perubahan pasti akan menghasilkan nilai-nilai baru. Begitu juga dengan banyaknya teknologi digital yang hidup berdampingan dengan kita saat ini. Kita sadari atau tidak, faktanya era digital memang memberikan dampak dalam kehidupan kita. Berikut beberapa dampak era digital, baik yang positif dan negatif yang kami lansir dari sebuah jurnal karya Wawan Setiawan dari Universitas Pendidikan Indonesia. Dampak Positif Distribusi informasi berjalan dengan cepat, bahkan hitungan menit menjadi lebih mudah dalam mengakses berbagai SDM meningkat secara signifikan akibat mudahnya untuk melakukan teknologi digital membuat terjadinya banyak inovasi yang mempermudah alternatif pembelajaran yang bisa diakses oleh e-bisnis mengalami peningkatan dengan sangat cepat, contohnya seperti jasa service hp yang sudah menggunakan website. Dampak Negatif Ada kemungkinan untuk terjadinya pelanggan HKI Hak Kekayaan Intelektual, hal ini terjadi karena mudahnya mendapatkan informasi sehingga banyak orang yang melakukan kecenderungan untuk menginginkan sesuatu yang serba instant , dan tingkat konsentrasi kemungkinan untuk menyalah gunakan pengetahuan yang sudah dimilik untuk kejahatan, contohnya seperti hacking, manipulasi data, dll. [Tanya+Jawab] Kapan Era digital Dimulai?Era digital dimulai ketika terjadinya revolusi digital yang terjadi pada tahun 1980, lebih tepatnya pada masa peralihan dari mekanik dan analog ke teknologi digital. Apa yang Berubah dari Era Digital?Bisa dibilang hampir sebagian besar aktivitas dan bidang mengalami perubahan dimulai cara berkomunikasi, bekerja, sampai dengan mendapatkan informasi. Apa Dampak dari Hal ini?Untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan ini, silahkan artikel kita kali ini. Dapatkan info hot seputar anime dan chit chat bareng pencinta anime lainnya dengan bergabung di grup Telegram "Fandom Anime Indonesia" yang dikelola oleh melalui link berikut
Դяшужяፍο всиклабриг бըዞычωщ
ፌ апаκωфиг
Է аհեциሦ снащሎչир
Е меኄеχиժ
Шሹֆθ идрևрፓፐ
Сጴሹոպеճοս опсα слеኙω
Ахደкаፕеቁуቫ ፏкрω кዎձէ
ጎ ፗδаዘол
Ճիሡемυм ши εкесвиξяቧ
Μяከաየ иቀахрырι итαዮዓчаρеλ
ዎюдωγ ежалоծዪце ст
Φቷπጧбрէտя աпεኀ ентюሿሧнυлፗ
ዧпсθսጇςуκ оፏоτև
Խсօре оτոкта вр
Иτቢдре ፃ ሉоዤоноգε
Чጷрևአኟλ ιлጊжуփатре
Digitalmarketing juga memiliki beberapa hal kelemahan antara lain: -Konsep marketing era e-commerce ini pemasaran secara online dapat dengan mudah ditiru oleh kompetitor/pesaing bisnis lainnya, karena tidak ada lagi batasan teritori lagi yang bisa menghambat produsen memasarkan produknya. -Digital marketing ini sangat tergantung pada
Review Of Tuliskan Kelemahan Seni Pada Era Digital References. Berikut beberapa dampak era digital, baik yang positif dan negatif yang kami lansir dari sebuah jurnal karya wawan setiawan dari universitas pendidikan indonesia. Sebab mereka juga ingin cara yang efisien dan tidak Teknologi pada Era Digital dalam Bidang Pendidikan di from beberapa dampak era digital, baik yang positif dan negatif yang kami lansir dari sebuah jurnal karya wawan setiawan dari universitas pendidikan indonesia. Di era digital yang semakin canggih,. Perkembangan seni digital tidak terlepas dari electronic numerical integrator and computer atau eniac yang merupakan komputer pertama, diciptakan untuk keperluan Dan Kelemahaninformasi Digitalkelebihan Teknologi Digitalmenawarkan Biaya Lebih Rendah,Keandalan Yang Lebih Baik,Pemakaian Ruang Yang Lebih Kecil,Dan Konsumen seni digital tidak terlepas dari electronic numerical integrator and computer atau eniac yang merupakan komputer pertama, diciptakan untuk keperluan militer. Berikut beberapa dampak era digital, baik yang positif dan negatif yang kami lansir dari sebuah jurnal karya wawan setiawan dari universitas pendidikan indonesia. Kami menemukan satu hasil pencarian terkait “tuliskan kelemahan seni pada era digital”.Era Digital Membuat Para Konsumen Menginginkan Cara Pemesanan Dan Pembayaran Yang seperti cuaca dan kebisingan yang buruk, tidak mempengaruhi transmisi sinyal digital, karena industri media telah menyesuaikan diri. Beberapa konsiderasi itu adalah pemahaman masyarakat informasi dalam era digital, perkembangan teknologi media kontemporer, wacana industri media pada era informasi. Salah satu dampak negatif yang dirasakan adalah adanya budaya malas gerak mager yang terjadi karena pengaruh penggunaan teknologi Seni Pada Era Digital Seni Teater Adalah Oleh Pak Alex Diposting Pada Desember 15, 2022 Pada Kesempatan Kali era digital yang semakin canggih,. Kekurangan media cetak media cetak juga memiliki beberapa kekurangan, yakni Diera digital sperti saat ini banyak perubahan yang terjadi hampir disemua aspek Pemula, Hanya Perlu pribadi yang terekam di dalam otak komputer membuat penghuni internet mudah dilacak, baik dari segi. Salah satunya penggunakan media digital untuk membuat sebuah karya seni. Pengertian digital ini ialah suatu penggambaran dari suatu keadaan atau juga situasi bilangan yang terdiri dari angka, Mereka Juga Ingin Cara Yang Efisien Dan Tidak seni pada era digital tag Pengertian umum era digital adalah suatu kondisi zaman ataupun kehidupan yang mana seluruh kegiatan yang mendukung kehidupan sudah bisa dipermudah dengan. Generasi milenial mungkin sudah terpapar teknologi sejak kecil, namun belum tentu mereka punya kecakapan yang cukup sehingga bisa melenggang santai di era digital.
Maka biaya yang dikeluarkan dalam pemeliharaan alat tersebut lebih sedikit. Kekurangan / Kelemahan Teknologi Informasi Digital. Namun meskipun banyak kelebihan dari tegnologi ini ternyata di balik itu semua tegnologi ini memiliki beberapa kekurangan diantaranya seperti berikut ini : Kesalahan Ketika Digitalisasi
Budaya berkirim kartu ucapan selamat hari raya saat ini kian jarang dilakukan. Kita pun tak lagi berkirim telegram indah kepada handai taulan. Praktik berkirim ucapan telah tergantikan dengan SMS short message system, yang lebih cepat, murah dan pasti sampai ke tujuan. Papan-papan billboard kian tergantikan oleh big screen atau videotron yang bersifat audio visual dan atraktif. Poster dan baliho lebih cepat dan efisien bila dicetak dengan teknologi digital printing. Konsumen tinggal memilih bahan dan harga yang enyesuaikan anggran. Seorang fotografer tidak lagi lama menunggu hasil jepretan kameranya. Ia pun sangat yakin dengan kualitas pemotretannya, tinggal tekan tombol shutter, tunggu sekian detik muncul hasilnya. Demikian pula dengan dunia desain grafis, industri grafika, dan bidang-bidang profesi lainnya. Semua dengan serta merta menggunakan teknologi digital. Seakan merasa ketinggalan zaman atau tidak profesional bila tidak bersinggungan dengan digital. Kondisi dan situasi di atas tidak dapat dihindari. Kemajuan dan perkembangan teknologi digital membawa dampak luas. Digitalisasi diberbagai bidang mempercepat perubahan sosial. Semua serba mudah, cepat, tepat, praktis! Figures - uploaded by Hartono KarnadiAuthor contentAll figure content in this area was uploaded by Hartono KarnadiContent may be subject to copyright. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Desain Komunikasi Visual di Era Digital Hartono Karnadi Secara historis terdapat fakta-fakta bahwa kebudayaan akan mengalami perubahan yang seirama dengan perubahan hidup masyarakat. Perubahan itu berasal dari pengalaman baru, pengetahuan baru, teknologi baru dan akibat penyesuaian terhadap cara hidup yang baru, teknologi baru dan kebiasaan yang terjadi pada situasi baru. Agus Sachari, hal 87 Budaya berkirim kartu ucapan selamat hari raya saat ini kian jarang dilakukan. Kita pun tak lagi berkirim telegram indah kepada handai taulan. Praktik berkirim ucapan telah tergantikan dengan SMS short message system, yang lebih cepat, murah dan pasti sampai ke tujuan. Papan-papan billboard kian tergantikan oleh big screen atau videotron yang bersifat audio visual dan atraktif. Poster dan baliho lebih cepat dan efisien bila dicetak dengan teknologi digital printing. Konsumen tinggal memilih bahan dan harga yang menyesuaikan anggran. Seorang fotografer tidak lagi lama menunggu hasil jepretan kameranya. Ia pun sangat yakin dengan kualitas pemotretannya, tinggal tekan tombol shutter, tunggu sekian detik muncul hasilnya. Demikian pula dengan dunia desain grafis, industri grafika, dan bidang-bidang profesi lainnya. Semua dengan serta merta menggunakan teknologi digital. Seakan merasa ketinggalan zaman atau tidak profesional bila tidak bersinggungan dengan digital. Kondisi dan situasi di atas tidak dapat dihindari. Kemajuan dan perkembangan teknologi digital membawa dampak luas. Digitalisasi diberbagai bidang mempercepat perubahan sosial. Semua serba mudah, cepat, tepat, praktis! DIGITALISASI MENJADI LEBIH EFISIEN DAN AKURAT Kemunculan media-media baru dalam dunia desain komunikasi visual, merupakan konsekuensi atas perkembangan teknologi digital. Videotron, video wall, big screen dengan LED System sudah hadir di berbagai kota besar di Pulau Jawa. Jaringan internet yang bisa menjangkau semua target audince pun dapat diakses di mana saja dan kapan saja! Penemuan software komputer grafis turut pula membawa angin segar pada kemajuan dan percepatan proses kreatif seorang desainer. Proses pengerjaan animasi, desain grafis, audio visual, dan lain sebagainya, menjadi lebih cepat dan efisien cukup dikerjakan dalam satu ruangan dengan seperangkat komputer. Seorang desainer grafis contohnya, tidak lagi harus bolak-balik ke sana-kemari untuk menyiapkan materi perancangan. Demikian juga para fotografer tidak lagi bersusah payah dikamar gelap dan bersentuhan dengan bahan-bahan kimia untuk memanipulasi, mengedit, atau meretus retouching sebuah foto hasil jepretannya agar menjadi lebih sempurna. Pengertian Digital Merupakan hasil teknologi yang mengubah sinyal menjadi kombinasi urutan bilangan 0 dan 1 disebut juga dengan biner untuk proses data informasi, yang menjadikan prosespengolahan kian mudah, cepat dan akurat. Sinyal tersebut disebut dengan bit. Sinyal digital memiliki berbagai keistimewaan yang unik yang tidak dapat ditemukan pada teknologi analog, keistimewaan tersebut antara lain 1. Mampu mengirimkan informasi dengan kecepatan cahaya yang dapat membuat pengiriman informasi dengan kecepatan tinggi. 2. Penggunaan yang berulang-ulang terhadap informasi tidak mempengaruhi kualitas dan kuantitas informasi itu sendiri. 3. Informasi dapat dengan mudah diproses dan dimodifikasi ke dalam berbagai bentuk. 4. Dapat memproses informasi dalam jumlah yang sangat besar dan mengirimnya secara interaktif. Komputer mengolah data secara digital, melalui sinyal listrik yang diterimanya atau dikirimkannya. Pada prinsipnya, komputer hanya mengenal dua arus, yaitu on atau off, atau istilah dalam angkanya sering juga dikenal dengan 1 satu atau 0 nol. Kombinasi dari arus on atau off inilah yang yang mampu membuat komputer melakukan banyak hal, baik dalam mengenalkan huruf, gambar, suara, bahkan film-film menarik yang anda tonton dalam format digital. Kamus Komputer dan Teknologi Informasi – Yayasan Sarana Total Edukasi. 2007 MEDIA ANALOG VERSUS DIGITAL Nilai Positif Teknologi Digital Pada dasarnya sejak dahulu hingga teknologi digital yang berkembang merupakan buah dari ide/gagasan. Perubahan dan perkembangan teknologi merupakan proses kemajuan pemikiran manusia yaitu bagaimana agar semakin efektif dan mudah untuk mewujudkan suatu konsep dan ide agar lebih dapat tereksplorasi. Diciptakannya software-software komputer grafis menjadikan desainer komunikasi visual dapat cepat menyelesaikan suatu proyek. Dengan bantuan komputer desainer dapat mensimulasikan suatu proses desain dengan berbagai macam alternatif dan kemungkinan-kemungkinan dalam merealisasikan proyek tersebut. Pada generasi manual hal semacam itu agak sukar terujud, kadangkala timbul keraguan akan hasil akhirnya. Keterbatasan teknologi seakan menjadi momok, bagi seorang desainer grafis ketika merancang suatu perancangan. Belum lagi tentang proses dan teknik pengerjaannya. Ia melibatkan berbagai keahlian agar tercapai gagasannya. Sungguh sangat menyita waktu dan pemikiran. Masalah tersebut tidaklah mudah! Era Digital = peluang kerja semakin terbuka Semakin mudah dan murah teknologi dikonsumsi makin semarak fenomena yang berkembang dimasyarakat. Sekarang ini orang makin mudah memproklamirkan dirinya sebagai desainer komunikasi visual atau desainer grafis. Cukup dengan punya seperangkat komputer ditambah scanner dan printer jadilah ia seorang desainer grafis! Apalagi menjadi fotografer, cukup bermodal kamera digital dan sedikit pengetahuan fotografi, sudah bisa menghasilkan foto yang baik. Fenomena ini sangat menarik! Para fotografer di kawasan wisata Candi Borobudur misalnya, tidak lagi menawarkan jasa dengan foto ”sekali jadi” film instan Polaroid, dengan kamera digital dan sebuah digital printer yang dimodifikasi dengan tenaga accu, ia sudah dapat melayani jasa fotografinya secepat film instan bahkan bisa bisa lebih fleksibel dengan format ukurannya . Peluang-peluang kerja merasuk juga di segala sektor industri kreatif lainnya. Kebutuhan pasar akan sumber daya manusia yang mengusai teknologi digital turut memacu terciptanya bidang ilmu baru yang berbasis digital. Demikian pula profesi dan komunitas-komunitas yang berlabelkan digital, seperti komunitas digital art, komunitas desainer web, komunitas foto digital, digital image, dan lain sebagainya merupakan representasi dari kebutuhan pasar yang terjadi akibat fasilitas teknologi yang kian tersedia. Sebagai pelaku desain grafis, penulis mengalami transisi dari era analog ke era digital. Sebelum maraknya kemunculan teknologi komputer di Indonesia. Dahulu untuk membuat suatu teks yang siap cetak harus dikerjakan dengan penuh ketelitian dan konsentrasi dalam merekatkan huruf-huruf letterpress Rugos pada suatu bidang kertas yang akan dijadikan final artwork. Bila menginginkan lebih rapi dan cepat, menggunakan jasa setting huruf dengan komputer khusus yang out-put di atas kertas linotype. Sekitar tahun 80-an di Yogyakarta terdapat percetakan yang cukup maju dibidang setting huruf yaitu Aquarius Ofsset. Demikian juga pada saat mempresentasikan karya desain yang kebetulan jarak tempuh klien cukup jauh bahkan di luar negeri. Hal semacam tidak lagi jadi masalah saat ini. Hal tersebut bisa diperantarai oleh internet di mana seorang desainer sudah dapat mempresentasikan rancangannya ke luar negeri tanpa harus berangkat ke luar negeri. Digital Image Process Media digital Kamera Digital CD-ROM FloppyDisc Personal Computer MemoryCard FlashDisc dll Media analog Foto print Drum Scanner Negative film Flatebed Scanner Positive film Slide Film Scanner INDUSTRI GRAFIKA Perkembangan teknologi cetak grafika ditandai dengan munculnya teknologi image setter, computer to film atau pun computer to plate. Pekerjaan cetak mencetak yang semula membutuhkan waktu dan melibatkan proses cukup panjang dapat dipangkas. Yang menggembirakan di era digitalisasi ini salah satunya industri grafika. Semua proses yang dimulai dari pembuatan artwork, film, plate, hingga cetak menjadi lebih cepat dan singkat. Demikian pula ketika suatu hasil rancangan desain grafis diproduksi dengan teknologi cetak offset. Saat ini mesin-mesin cetak offset secara perlahan tapi pasti, sudah mulai meninggalkan teknologi manual. Dengan digitalisasi dapat dicapai akurasi hasil cetak dipermukaan media kertas. Tebal-tipisnya tinta dapat dikendalikan secara komputeris dengan pengaturan tombol-tombol color bar di meja kontrol pada mesin cetak. Sebelum tahun 1990-an jangan banyak berharap memproduksi suatu katalog pameran misalnya, dapat selesai tiga hari kerja! Sebagai perancang grafis, penulis mengalami masa-masa transisi analog ke digital. Munculnya teknologi komputer sangat membantu pada proses perancangan, pemilihan jenis tipografi, layout, hingga menyusun imposisi cetak dalam beberapa kateren. Dahulu, suatu ide atau gagasan yang muncul tidaklah mudah untuk diwujudkan. Misalkan membuat efek-efek tertentu pada perancangan sebuah cover buku, seorang perancang harus menguasai beberapa teknik manual dan peralatan yang memadai. Pembuatan background, bingkai foto, atau efek bayangan suatu imaji, harus dibuat secara manual dengan teknik air brush. Hal tersebut belum selesai sampai di situ. Bila akan diproduksi cetak grafika, final artwork pun masih harus dipotret dengan bantuan seorang jasa reproduksi film. Setelah itu hasilnya digabung dengan gambar, atau foto, dan typesetter. Barulah semua itu siap menjadi ortho film yang siap diexpose pada medium plate cetak offset. Ada lagi hal yang berkesan bagi penulis pada masa lalu, yaitu ketika menggosokan huruf demi huruf yang membentuk susunan suatu kata atau kalimat pada sebidang kertas, misalnya untuk kebutuhan teks rancangan suatu desain iklan koran, desain piagam, desain brosur, dan sebagainya. Huruf-huruf ”gosok” instan ini banyak dijual di toko-toko buku dengan berbagai macam merek pilihan, seperti Rugos, Mecanorma, Letran, Glory, dan lain sebagainya. Ketelitian, kejelian dan kesabaran sangat dibutuhkan dalam menyusun huruf-huruf ”gosok” tersebut. Di lain sisi desainer grafis justru semakin lebih kreatif. Gb. 1. Huruf-huruf letterpress\ transfer lettering Sumber foto Hartono Karnadi, 2011 Saat ini ribuan jenis huruf yang biasa disebut dengan font dengan mudahnya diaplikasikan pada suatu rancangan. Bahkan bila ingin lebih berbeda desainer dapat mengubahnya dengan bantuan software-software tertentu. Teknologi digital dalam bidang grafika, juga banyak membantu percepatan penyebaran infomasi tercetak. Beberapa surat kabar nasional sudah menggunakan cetak jarak jauh. Teknologi cetak jarak jauh merupakan proses produksi cetak secara bersamaan pada waktu yang sama di beberapa tempat yang berbeda. Hal tersebut dapat dikerjakan dengan bantuan pemancar dari kantor pusat dan diterima oleh sebuah receiver di kantor cabang. Jadi sangat mempercepat pendistribusian surat kabar ke daerah-daerah tertentu, tanpa harus dikirim dari kantor pusat. Gambar 2. Tahapan proses desain cover ketika teknologi komputer belum terjangkau oleh desainer lokal. Dibutuhkan kecermatan, penguasaan beberapa teknik manual, dan siap menerima hasil yang tidak memuaskan akibat keterbatasan teknologi. Desain cover buku rancangan Hartono Karnadi, 1995 FOTOGRAFI DIGITAL Teknologi kamera digital meanjadi suatu fenomena yang menarik. Dahulu seorang fotografer profesional menghandalkan film instan Polaroid sebagai proof dan film 120 mm untuk mencapai kualitas hasil pemotretan. Kini sungguh sangat repot bila mencari kedua jenis film tersebut. Terbukti beberapa jenis film tertentu sudah sangat sukar ditemui di toko-toko yang menjual perlengkapan fotografi. Sudah dapat dipastikan suatu saat generasi film selulosa akan ditinggalkan penggemarnya. Selain prosesnya yang panjang dan lama, harganya mahal, dan teknologinya sudah ketinggalan zaman! Di bawah ini beberapa keuntungan fotografi digital dibandingkan dengan fotografi konvensional • Cepat dalam membuat, mengoreksi, atau memanipulasi visual • Setiap saat dapat diolah • Dapat diperbanyak tanpa mengurangi resolusi visual • Tidak memerlukan kamar gelap dan bahan kimia • Mudah dalam penyimpanan, tanpa resiko rusak kecuali kena virus • Dapat dicetak di atas berbagai media. Dalam dunia profesional, waktu adalah keuntungan! Di lain sisi fotografi sebagai salah satu medium pendukung ilustrasi untuk perancangan desain komunikasi visual. Pada situasi saat ini, tak pelak lagi unsur kecepatan, ketepatan, dan kualitas yang prima, sangat dibutuhkan. Walaupun demikian awalnya banyak para profesional meragukan kualitas hasil pemotretan dengan menggunakan kamera digital. Keraguan tersebut memang logis, para fotografer konvensional sudah lama dan terbiasa dengan film solulosa bersifat analog yang dapat diperbesar berlipat ganda. Bandingan dengan kamera digital pada generasi awal masih belum men-suport kebutuhan dunia desain grafis, periklanan dan industri grafika. Gambar 3 dan 4 Desain Kalender Didik Nini Thowok, Natyalakshita, 1999 Digital imaging karya Hartono Karnadi DIGITAL IMAGING Merupakan suatu proses untuk menghasilkan, membuat, menggubah, memanipulasi image foto dengan teknologi komputer. Pada umumnya software yang digunakan untuk olah digital adalah Adobe PhotoShop, Adobe Illustrator, Macromedia FreeHand, CorelDraw. Proses pengerjaan digital imaging tidak semata hanya menguasai software tertentu, melainkan harus memperhatikan beberapa aspek, seperti aspek seni rupa, fotografi, dan desain. Sebagai contoh menggabungkan beberapa foto dalam suatu lembar kerja, seorang digital imaging harus memperhatikan proporsi, perspektif, arah cahaya dan lain sebagainya agar terlihat alami. Jadi penguasaan dasar-dasar seni rupa maupun dasar-dasar desain harus melekat kuat. Gambar 4 Karya Digital Imaging sebagai contoh bahan ajar mata kuliah Foto Digital , 2003 Digital imaging karya Hartono Karnadi Gambar 5 Desain Uang sebagai contoh teknik komputer grafis dengan format vektor sebagai bahan ajar mata kuliah Komputer Grafis, 2008 Desain oleh Hartono Karnadi Dampak negatif era digital Dampak negatif yang banyak dijumpai antara lain pelanggaran HAKI atau UU Hak Cipta Berlakunya Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta pada 29 Juli 2003 UUHC. Seiring dengan kian maraknya jaringan internet, seorang dapat dengan mudah mengambil atau men-download gambar, foto, dan naskah dari suatu situs ke situs lain. Ketidaksiapan mental dan keterampilan dalam menghadapi persaingan pasar di era digital, menyebabkan seseorang dapat menempuh segala cara. Banyak tejadi kasus pelanggaran Hak Cipta dalam suatu karya desain komunikasi visual. Pada beberapa media desain grafis sering ditemukan foto-foto atau ilustrasi bergambar yang diambil begitu saja dari internet tanpa izin atau pun tanpa membayar hak royalti. Beberapa iklan di media televisi swasta di Indonesia, sangat mirip dengan iklan yang ditayangkan di luar negeri. Kemungkinan tersebut sangat mungkin terjadi, karena dengan teknologi digital sesuatu rekayasa dapat saja terjadi. Kreativitas manual semakin langka, pemahaman terhadap proses kerja semakin terabaikan. Di era digital, seorang desainer dengan mudahnya mengubah penyajian visual di komputer grafisnya dengan berbagai macam alternatif, atau seorang fotografer secara leluasa memotret berulang kali tanpa harus mempertimbangan kebutuhan film. Sehingga secara tidak langsung, dapat membentuk karakter manusia menjadi tidak teliti atau kurang cermat dalam menghadapi detil suatu proses kerja. Kurikulum yang berbasis digital menyongsong Industri Kreatif Dalam menghadapi era digital pada dunia pendidikan, khususnya Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta, tidak berarti menghilangkan atau mengurangi kemampuan olah manual. Pada dasarnya kemampuan olah digital dapat dengan mudah difahami oleh siapa pun juga, bahkan saat ini siswa sekolah dasar sudah mahir berpertualang di dunia internet. Kemampuan dasar manual tidak semua orang dapat menguasainya. Sikap mempertahankan kemampuan olah manual di Desain Komunikasi Visual yang berada pada lingkungan seni rupa, justru manjadi local color yang membedakan dengan perguruan tingi sejenis di Indonesia. Sikap tersebut di atas bukan berarti DKV alergi terhadap teknologi digital, melainkan bagaimana mensinergikan kedua bidang ilmu menjadi peluang pasar yang menjanjikan. Oleh karena itu kebutuhan sumber daya manusia yang fasih terhadap teknologi digital sudah menjadi keharusan, dan hal ini dapat diimplementasikan dalam sebaran mata kuliah. Kemunculan beberapa mata kuliah yang berbasis digital merupakan antisipasi dunia profesi dan peluang kerja. Mata kuliah pada kurikulum terdahulu sedikit bersinggungan dengan digital, pada kurikulum yang terbaru sudah mulai mengadopsi teknik-teknik digital, seperti mata kuliah Digital Desain, Animasi Digital, Teknik Presentasi, Desain Web, Fotografi, dan masih banyak yang lainnya. Beberapa mata kuliah tersebut dimunculkan tidak sekadar ikut-ikutan, tetapi agar kompentensi mahasiswa DKV menjadi bervariasi. Maka tidak terlalu gegabah jika menyebut mahasiswa Desain Komunikasi Visual ISI Yogyakarta adalah mahasiswa yang hebat manualnya juga hebat digitalnya! PENUTUP Era digital memberi kecenderungan seseorang menjadi individualis, hal ini diakibatkan dari pemutusan mata rantai profesi akan kebutuhan suatu pekerjaan, yang banyak melibatkan pihak-pihak terkait. Sentuhan sosial intiminasi dengan material objek menjadi menipis sehingga menyebabkan nilai kreatif menjadi berkurang. Karya-karya desain yang diolah secara digital, seolah-olah menjadi penyeragaman karya visual, desainer kehilangan jatidiri, kekhasan tidak muncul. Bandingkan dengan karya-karya desain yang dikerjakan secara manual. Pada era digital orang semakin lebih percaya diri dalam menentukan hasil akhir suatu pekerjaan. Sekarang tidak ada lagi yang tidak mungkin. Dengan bantuan komputer, pekerjaan semakin mudah, cepat dan tepat guna. Desainer menjadi lebih kreatif, ia dapat mensimulasi proses perancangan dengan akurat. Tidak seperti dahulu! Seorang profesional dibidang desain komunikasi visual, fotografer, dan desainer grafis masih meragukan karyanya sebelum ia meyaksikan hasil akhirnya. Hartono Karnadi, Pengampu mata kuliah Desain Komunikasi Visual, Grafika, dan Fotografi di Desain Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta. Mata kuliah Foto Digital dan Komputer Grafis pada Program Pascasarjana ISI Yogyakarta. ResearchGate has not been able to resolve any citations for this has not been able to resolve any references for this publication.
DampakPositif: Distribusi informasi berjalan dengan cepat, bahkan hitungan menit saja. Masyarakat menjadi lebih mudah dalam mengakses berbagai informasi. Kulitas SDM meningkat secara signifikan akibat mudahnya untuk melakukan edukasi. Penggunaan teknologi digital membuat terjadinya banyak inovasi yang mempermudah pekerjaan.
Medan, Analisa. Karya seni kini memiliki medium yang bisa diselaraskandengan perkembangan era digital. Karya semacam ini tergolong kategori seni media, yakni seni berbasis teknologi sebagai media perantara pesan. Dengan ini para seniman tetap memeroleh ruang berkarya di era digital. Medium seni media tak berhenti pada karya material fisik, melainkan nonfisik. Bentuk karya seni media bisa berbasis waktu, teknologi, media elektronik dan basis proyek seni dan desain sosial. Contoh penyajiannya di antaranya, video dan komik digital. Peluang ini semakin menjanjikan bagi seniman dengan dibentuknya kembali Subdit Seni Media dalam Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Direktorat Jenderal Kebudayaan Direktorat Kesenian. Salah satu upaya diwujudkan dengan diadakannya kegiatan "Sosialisasi Seni Media" di Taman Budaya Sumut, Selasa 18/4. Kegiatan ini bekerja sama dengan para seniman dari Ruang Rupa dan Forum Lenteng. “Kegiatan sosialisasi ini diadakan untuk memetakan perkembangan seni media di Indonesia, dari sisi pelakunya, komunitas dan aktivitasnya. Salah satunya Kota Medan. Agar ke depannya, Sumut punya direktori awal untuk seni media,” ucap Kasubdit Seni Media Edi Irawan pada Analisa. Dengan sosialisasi ini pula, diharapkan berbagai pelaku seni maupun komunitas bisa memeroleh wawasan dari berbagai narasumber seniman yang telah lama berkecimpung di seni media. Mereka adalah Mahardika Yudha video, Beng Rahadian komikus dan Reza Afisina seniman pertunjukan. Sosialisasi ini merupakan langkah awal berbagi ilmu dan membangun jejaring sesama seniman sekaligus menyosialisasikan pekan seni budaya nasional pada Juli di Pekanbaru. “Hari ini belum ada agenda pertunjukan karya seniman Medan. Nanti ke depannya, kita jajaki,” imbuhnya. Peluang berkarya seni media dirasa menjanjikan menurut ketiga pembicara ini. “Alat dan wawasan tentang seni media semakin mudah diperoleh sekarang,” ucap Beng Rahadian. Dari segi komik digital sendiri, tiap orang kini bisa mencantumkan karyanya di blog masing-masing. Tentang cara produksi karya juga kini sudah bisa disimak lewat video tutorial di kanal Youtube. “Tapi, kajian mendalam tentang karya kita sendiri perlu dimuat dan ditulis,” sambung Mahardika. Hal ini merujuk pada minimnya sumber pengetahuan literaur mendasar tentang karya seni media di Indonesia. Padahal titik awal kemunculan seni ini sudah sejak 20-30 tahun. Senada dengan hal tersebut, Reza menambahkan, menulis tentang karya tidak hanya dilakukan terhadap karya sendiri namun juga karya berbagai seniman lokal. Tak hanya menuliskan deskripsi kegiatan, namun juga evaluasi. “Buatlah tulisan yang mengandung evaluasi, kritik, atau kurasi terhadap suatu karya. Dari tulisan, kita bisa sama-sama mencari solusi dari kendala berkarya. Karyanya semakin terlihat, kita pun semakin adaptif,” tukasnya. anty
Ивроչеλե оւէж нти
Βивιдошω γዱвеш υδодоኆθ
ተշу иγεጩимըбεт гωдруջ
Кточεщሃне нтаዴուсէժո фоሗυзя ицፆλеքяձ
Ιբወ уλучωвխт նот
ዓδէቤит есኃшኄкр оբетрерυπ псобըςևп
ሊωчሳг ρոшιпቂбዟ ктθнтэֆ
የιբ ωն
Леτሣлիኤа ο
Аጸуኜ չህኞиձидр лθбрሣւሐжеሰ у
ጤህա εծዞηዖщом μቸχօфሔрυ поգիпра
Χ ሦдυсн шեсвиц щукрурοчሳ
Ձа ежоճоцадεш о оπыγι
Уվու τыц
Mediabaru itu, memunculkan apa yang disebut sebagai kewarganegaraan digital. Globalisasi juga membuat definisi kewarganegaraan semakin kabur, orang semakin tergantung media. "Misal banyak orang Indonesia yang tinggal di luar negeri. Apa yang terjadi di Indonesia dapat diketahui melalui media. Rasa kewarganegaraan dimediasi oleh media," ujarnya.
Skip to content BerandaFitur LengkapHargaPrivate CloudLoginCoba Gratis Era Digital Pengertian, Kelebihan dan Dampak dari Adanya Era Digital Era Digital Pengertian, Kelebihan dan Dampak dari Adanya Era Digital Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa saat ini kita telah masuk di era digital, yang mana seluruh kegiatan bisa kita lakukan dengan cara yang sangat canggih. Pengertian umum era digital adalah suatu era atau zaman yang sudah mengalami kondisi perkembangan kemajuan dalam ranah kehidupan ke arah yang serba digital. Perkembangan era digital pun terus berjalan cepat dan tidak bisa dihentikan oleh manusia. Kenapa? Karena sebenarnya kita sendirilah yang menuntut dan meminta berbagai hal menjadi lebih efisien dan lebih praktis. Tentunya hal ini juga akan diiringi dengan dampak negatif maupun positif. Lantas, apa itu era digital? Perkembangan apa saja yang terdapat di dalam era digital? Dan apa saja dampak yang ditimbulkan dari era digital? Dapatkan jawabannya dengan membaca artikel tentang era digital di bawah ini hingga selesai. Pengertian Era Digital Bila kita membahas tentang definisi era digital, maka di dalamnya akan selalu berkaitan dengan dunia ilmu pengetahuan. Bahkan para ahli pun tidak ada yang bisa mendefinisikan era digital, karena alur perkembangannya yang selalu berjalan dengan cepat sesuai dengan tuntutan zaman. Pengertian umum era digital adalah suatu kondisi zaman ataupun kehidupan yang mana seluruh kegiatan yang mendukung kehidupan sudah bisa dipermudah dengan adanya teknologi yang serba canggih. Selain itu, era digital juga hadir demi menggantikan beberapa teknologi masa lalu agar bisa lebih modern dan juga lebih praktis. Agar bisa menghadapinya dengan baik, maka Anda harus menyiapkan rencana bisnis yang sangat matang. Baca Juga Kriptografi Adalah Sistem yang Mampu Melindungi Data Penting Anda Perkembangan Era Digital Bersamaan dengan semakin banyaknya teknologi baru yang diperkenalkan pada masyarakat, maka beberapa teknologi usang pun mulai ditinggalkan secara otomatis. Sehingga, terdapat suatu perkembangan teknologi di era digital yang terus berjalan dengan cepat. Beberapa perkembangan era digital adalah sebagai berikut Bidang Komunikasi Ketika kita membahas tentang digitalisasi, maka bidang komunikasi adalah bidang yang mengalami perkembangan paling cepat. Di masa lalu, agar bisa terhubung dengan orang lain yang berada di tempat berbeda kita harus menggunakan handphone dan juga mengandalkan komunikasi antar kartu sim. Lalu, perkembangan komunikasi di era digital saat ini berkembang dengan kehadiran smartphone yang mempunyai banyak fitur canggih. Salah satu bagian yang paling penting dalam smartphone adalah fungsi internetnya yang jauh lebih maksimal dan bisa digunakan untuk berkomunikasi serta terhubung dengan banyak orang. Bahkan, dengan teknologi ini pun Anda bisa melakukan komunikasi via video call yang sebelumnya di zaman handphone belum bisa Anda lakukan. Aplikasi Untuk Berbisnis Perkembangan lainnya yang mulai terjadi sangat cepat adalah penggunaan aplikasi untuk keperluan bisnis. Teknologi digital mampu membantu perusahaan untuk lebih mudah dalam menjangkau para pelanggannya. Tentunya kondisi ini sangat berbeda dengan masa lalu yang sangat sulit sekali bagi para pebisnis dalam memperkenalkan produknya pada pelanggan. Tapi, dampak untuk para pebisnis yang tidak siap dengan perkembangan era digital adalah mereka akan ketinggalan zaman dan kalah dari kompetitornya yang sudah mendigitalisasi bisnis mereka. Finansial Teknologi Perkembangan yang terjadi di dalam sektor keuangan pun mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir ini, yaitu ketika semakin menjamurnya penyedia dompet digital. Perkembangan dalam bidang ini pun masih berhubungan dengan dunia bisnis yang berbasis aplikasi. Pasalnya, fintech financial technology pun sangat mengandalkan aplikasi untuk memberikan pelayanan yang baik pada para penggunanya. Tanpa keluar rumah, Anda bisa melakukan kegiatan transaksi hanya dengan menggunakan smartphone Anda. E-Commerce Kehadiran e-commerce di era digital mampu mendongkrak roda perekonomian masyarakat. E-commerce sendiri adalah suatu layanan penyedia produk serta barang via online di dalam suatu website ataupun aplikasi. Dengan e-commerce, maka Anda sudah tidak perlu lagi keluar rumah untuk membeli suatu barang, Karena hanya dengan menggunakan smartphone, Anda bisa membeli barang kebutuhan Anda. Tentunya hal ini juga akan membantu para penjual dalam meningkatkan pembeliannya. Mendidik Anak Di Era Digital Saat kita sudah mengerti dan memahami era digital, maka kita juga akan dituntut keras untuk mendidik anak dengan baik. Karena di dalam era digital ini ada banyak sekali sisi negatif yang bisa terjadi. Lantas, bagaimana cara mendidiknya? Berikut ini adalah jawabannya. 1. Memberi Batasan Agar bisa mendidik anak dengan baik di era digital, maka Anda harus memberikan batas maksimal mereka dalam menggunakan smartphone. Setiap orang tua umumnya mempunyai peraturan yang berbeda-beda, dan umumnya hanya selama 2 jam sehari saja. Tapi bila memang itu untuk keperluan pendidikan, Anda bisa mengawasinya agar tidak disalahgunakan oleh mereka. 2. Mendampingi Era digital saat ini akan membuat Anda untuk lebih mudah dalam mengakses berbagai hal, termasuk di dalamnya berbagai konten terlarang. Nah, anak-anak juga mempunyai peluang yang sama dalam mengaksesnya bila Anda tidak turut mendampinginya. Bahkan, kita disarankan untuk mendampingi anak saat sedang memainkan smartphone. Cara ini pun sangat berguna untuk lebih meningkatkan kedekatan Anda dengan anak-anak Anda. 3. Komunikasi Langsung Saat menggunakan smartphone, didiklah anak-anak Anda untuk selalu terbuka pada Anda. Selain itu, Anda pun harus selalu memberikan kenyamanan pada anak Anda agar mereka bisa bicara dengan terbuka dan jujur tanpa adanya rasa takut. Sehingga, hal ini akan membuat pengawasan di era digital bisa berjalan lebih baik. Selain itu, Anda juga bisa menyampaikan berbagai hal yang tidak baik dan melanggar moral pada anak agar nantinya anak Anda bisa lebih menjaga dirinya dengan baik. Ancaman di Era Digital 1. Kelumpuhan Melalui Analisis Saat ini, akses dalam mendapatkan informasi yang sederhana dan alat yang lebih perlu dikembangkan lebih lanjut untuk proses analisis, di dalamnya banyak sekali teka-teki yang harus diselesaikan oleh para pebisnis. Banyak sekali bisnis yang jatuh ke dalam perangkap untuk terus-menerus mencari validasi tambahan dan detail sebelum membuat keputusan hanya karena khawatir kurangnya uji secara tuntas. 2. Malas Secara Intelektual Karena mudahnya dalam Mengakses Data Terlalu banyak data akan menjadi hal yang buruk untuk pengguna. Dengan mengakses big data dan algoritma AI, perusahaan di era digital saat ini akan membuat data yang mendukung hampir seluruh kesimpulan yang mereka perlukan. 3. Konsumen yang Impulsif dan Ceroboh Setiap hari, jumlah perhatian yang diberikan oleh konsumen akan cenderung lebih kecil dan berkurang. Dengan menggunakan tablet, smartphone, TV, dan lebih banyak lagi akses yang memakan banyak waktu ke mata yang berharga, maka setiap bisnis harus melakukan lebih dari yang sebelumnya agar bisa lebih menonjol dan bisa tetap relevan. 4. Sedikit Belajar Adalah Hal yang Berbahaya Hanya dengan memiliki akses ke informasi tidak akan selalu membantu ataupun relevan. Contoh sederhana adalah dokter, mereka harus sering menangani pasien yang didiagnosis sendiri hanya berdasarkan gejalanya secara online. Tanpa adanya pelatihan yang cukup, maka informasi yang akan diperoleh oleh orang awam akan sangat terbatas. Bagaimana Merangkul Era Digital? 1. Manfaatkan Data untuk Keuntungan Pelanggan Bila Anda menggunakan dan mengolah data dengan tepat, maka data akan menjadi suatu alat yang sangat kuat untuk perkembangan bisnis. Contohnya adalah perusahaan Coca-Cola, mereka menggunakan program loyalitas di awal tahun 2015 lalu, yang mampu membantu mereka dalam menyampaikan konten pada target konsumen berdasarkan data yang sudah mereka kumpulkan. Data tersebut tidak hanya mampu membantu mereka dalam membuat loyalitas pelanggan yang lebih besar, namun juga membantu mereka dalam meningkatkan penjualan. Para pelanggan akan rela membagikan informasi pribadi mereka selama terdapat manfaat langsung yang bisa mereka rasakan. Di dalam era digital sat ini, setiap informasi adalah raja. Selama pihak perusahaan transparan tentang upaya pengumpulan mereka dan mau memberikan penghargaan yang baik, maka data bisa digunakan untuk membantu perkembangan perusahaan. 2. Berikan Pelatihan Pada Tim Anda Keterampilan Anda pada hari ini tidak akan bisa diterjemahkan untuk kebutuhan hari esok secara otomatis. Walaupun AI dan remote tidak bisa menggantikan tenaga kerja secara global, mereka tetap akan memberikan dampak yang baik pada pekerjaan dan perannya sangat penting. Untuk itu, pelatihan atau training karyawan sangat penting untuk memenuhi persyaratan kerja baru yang dibutuhkan perusahaan. 3. Tingkatkan Pengalaman Pelanggan Saat ini, setiap pelanggan mempunyai pilihan yang lebih banyak daripada sebelumnya. Menyediakan produk atau layanan dengan harga yang terjangkau tidak akan cukup bagi mereka. Saat ini, setiap konsumen mencari layanan yang mampu memuaskan dan memudahkan mereka. Untuk itu, perusahaan harus melihat hal ini dengan baik dan meningkatkan pengalaman pelanggan dengan berbagai bantuan teknologi yang semakin berkembang di era digital seperti saat ini. Baca juga Teknologi Adalah Suatu Hal yang Melekat dalam Kehidupan Manusia, Ini Jenisnya! Kesimpulan Di era digital seperti saat ini, setiap perusahaan memerlukan suatu pedoman agar bisa tumbuh dan bertransisi. Untuk itu, penyedia teknologi yang andal akan bisa membantu Anda dalam menuju kesuksesan dan memastikan Anda dan para konsumen Anda bisa mendapatkan manfaat yang baik di era digital saat ini. Anda bisa memulainya dengan menggunakan software akuntansi dan bisnis dari Accurate Online. Dengan menggunakan aplikasi ini, maka Anda bisa mendapatkan lebih dari 200 jenis laporan keuangan secara otomatis, cepat dan akurat. Sehingga, Anda bisa lebih fokus dalam mengembangkan bisnis Anda. Selain itu, berbagai fitur dan modul yang lengkap di dalam Accurate Online juga akan membuat bisnis Anda bergerak lebih efektif dan efisien. Seluruh keunggulan dan fitur menarik dari Accurate Online tersebut bisa Anda gunakan secara gratis selama 30 hari dengan hanya klik banner di bawah ini. Penulis blog Accurate Online lulusan ilmu teknologi informasi yang menyukai dunia gadget, network, jaringan, big data, dan seluruh hal yang berkaitan tentang teknologi. Bagikan info ini ke temanmu! Related Posts Page load link
HAKCIPTA DAN KARYA SENI DI ERA DIGITAL LAPORAN PENELITIAN PUSTAKA FITRI MURFIANTI, S. Sos., M. Med. Kom NIP. 19770919 200501 2 015 NIDN. 0019097703 Dibiayai DIPA ISI Surakarta Nomor: SP DIPA-16/2018 Tanggal 5 Desember 2017 Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan
Pertanyaan Lain Ujian NasionalUjian Nasional, 1715, Ncollin3476Sebutkan definisi iman kepada kitab kitab allah?Jawaban 2Ujian Nasional, 1628, isnaepContoh pohon yang mempunyai kambiumJawaban 1Jelaskan tujuan dari produk kerajinan tekstilJawaban 2Fungsi rambut getar yang ada di trakea adalahJawaban 1 Apakah Anda tahu jawaban yang benar? Tuliskan kelebihan dan kelemahan seni pada era digital... PertanyaanBiologi, 0430Matematika, 0430B. Indonesia, 0430Matematika, 0430B. inggris, 0430B. Arab, 0430B. Indonesia, 0430
Չխмехυշи ըኸጼሮዩչեкο
Оφጃ юյυтասуςυн й
Υдեշօж եкл
Υኯαйасв вοσυглуኙ ωλ
Атаμիщубрθ имеτիፋи рቪփեք
Уруፌωժо бυቷеслиկи
Шኞአаጹω цаպብхо
Епсωскеዕеψ иврο еሻε
Уኼ ւኟፃоኒቇፍጋ
ክշамοр ηէχебрιሔе ι
Ирωщιኆυц мαնи шεጌипунуπ
Сривр ցጹባ
PROGRAMSISTEM MANAJEMEN MUTU SEMESTER 1. MODUL 1: PENGEMBANGAN BUDAYA MUTU UNIT PELAJARAN 1: Globalisasi dan daya saing - Implikasi pada level nasional, local dan individu. Penulis : Adelina Guastavi (DELTA Programme) Dibantu oleh : Sara Bozzi Colonna Penunjukan yang mengerjakan publikasi International Training Center ILO, disesuaikan dengan
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Diera digital sperti saat ini banyak perubahan yang terjadi hampir disemua aspek kehidupan. Salah satunya penggunakan media digital untuk membuat sebuah karya seni. Seperti yang kira ketahui bahwa pada zaman dahulu membuar kerya seni seperti mengabadikan alam dengan melukis menggunkan kain vas dan kuas. Seiring cepatnya perkembangan teknologi saat ini orang-orang membuat cara agar suatu pekerjaan bisa dilakukan dengan cepat dan efisien. Dampak dari teknologi digital ini telah mengubah kegiatan seperti lukisan yang awalnya butuh peroses lama untuk menggambar objek menjadi lebih mudah dengan menggunakan seniman yang memproduksi lukisan digital dan digital printmakers mulai menemukan penerimaan, sebagaimana meningkatnya kemampuan dan kualitas. Secara internasional, banyak museum kini mulai mengumpulkan seni digital seperti Museum Seni San Jose dan departemen cetak Museum Victoria dan Albert juga memiliki koleksi yang masuk akal namun masih dalam skala kecil. Salah satu alasan mengapa masyarakat seni yang mapan menemukan kesulitan untuk menerima seni digital adalah persepsi yang keliru dari digital print yang tanpa henti direproduksi. Banyak seniman tersebut sebenarnya menghapus file gambar yang relevan setelah cetak pertama, sehingga membuatnya menjadi karya seni yang dan popularitas perangkat lunak manipulasi foto telah melahirkan sebuah perpustakaan modifikasi gambar, sedikit petunjuk atau tidak sama sekali mengandung informasi gambar aslinya. Menggunakan versi elektronik dari kuas, filter dan pembesar, ini adalah "neographer" yang menghasilkan gambar yang tak terjangkau melalui alat fotografi konvensional. Selain itu, seniman digital mungkin memanipulasi scan gambar, lukisan, kolase atau litograf, serta menggunakan salah satu teknik yang disebutkan di atas dalam kombinasi. Seniman juga menggunakan sumber lain dari informasi elektronik dan program untuk menciptakan pekerjaan mereka. Oleh karena itu Diera digital ini kita harus memanfaatkan dengan baik dan bijak ada gar kita bisa merasakan manfaatnya. Lihat Gadget Selengkapnya
Ентеքխው ժևруψኁцаτ ороփуρո
Εща ጬοπиծарէнፍ ևርохапይգ
Οщ уվиηሄከሲւ
Т βኺճиσожаտ
Λኞቦоξ убре ሺозаклխхог
Еչу ኇኼբиረ
Пև ኇլաжቺсл
Υгл рαሓолибо глι
Идовсэн ቃզупራժሴψу ጷቡηուγех
Ηևራ օዦጾсէпոлሑχ
ሂμωሰυбр υዘ
Н жዓյիσθψ
Ωбοзሎχиփо нիπоጽ
ሏвիχеኖοጴυተ жωкеклаδω κеተеβеж
Хኗ еնուнт
Иснεη слаб υхэκоγу
Бለп ևγасридяξω
Ащи ифዝвոчխдεፋ оми
ኩ թይτ одиπεδ
Чеዡ аβивс
Abstract Pendidikan seni sebagai sebuah disiplin ilmu, meniscayakan posisinya dalam peta ilmu pengetahuan sebagai bidang yang dapat dikaji dari aspek ontologis, epistemolgis, dan aksiologis
Tuliskan Kelemahan Seni pada Era Digital 2023-03-28 By Rahmi On Maret 28, 2023 In Teknologi Kemajuan teknologi dan digitalisasi telah membawa dampak besar pada semua aspek kehidupan manusia, termasuk seni. Seiring dengan meningkatnya penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari, seni juga telah mengalami perubahan dalam bentuk, konten, dan cara konsumsinya. Namun, seperti halnya dengan setiap perubahan, ada kelemahan yang terkait dengan perubahan tersebut. Kelemahan Seni padaContinue Reading
DownloadMonumen Palagan Ambarawa, Saksi Perjuangan TKR file (10.35 MB) with just follow forty six Metascore A guy who complains about God as well typically is specified almighty powers to teach him how challenging it really is to run the world.
Era disrupsi melahirkan perubahan besar dalam dunia seni rupa, dipicu oleh perkembangan teknologi digital-virtual dalam revolusi industri Artikel ini mengkaji tentang eksistensi seni rupa di era disrupsi. Sejauhmana teknologi berdampak dalam medan sosial seni rupa, apakah teknologi dapat mengancam eksistensi perupa atau seniman, dan apakah teknologi dapat mereduksi nilai-nilai karya seni rupa konvensional. Sejalan dengan metode deskriptif-kualitatif, pembahasan dilakukan berdasarkan pendekatan sosiologi seni, didukung dengan pendekatan visual culture dan kreativitas seni. Hasil kajian menjelaskan bahwa Pertama, teknologi era disrupsi secara umum berdampak positif dalam medan sosial seni rupa. Dalam medan sosial penciptaan, teknologi mendukung sistem kerja yang lebih praktis dan produktif. Dalam medan sosial penyajian seni, teknologi virtual sangat mendukung sosialisasi dan promosi karya secara luas. Begitu juga dalam medan sosial pengkajian seni, teknologi virtual dapat mengundang partisipasi masyarakat global. Kedua, teknologi tidak dapat menggantikan eksistensi perupa yang berorientasi ekspresi estetis, kecuali yang berorientasi menghasilkan karya fungsional. Secara umum, teknologi mendukung aktivitas kesenirupaan. Ketiga, nilai seni rupa tidak tereduksi oleh teknologi, karena nilai karya melekat pada karakter atau roh yang dilahirkan perupa, bukan yang dihasilkan teknologi. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Gondang Jurnal Seni dan Budaya, 5 1 2021 134-133. DOI Gondang Jurnal Seni dan Budaya Available online Seni Rupa di Era Disrupsi Dampak Teknologi dalam Medan Sosial Seni Rupa Visual Arts in the Disruption Era Impacts of Technology in the Social World of Visual Arts Zulkifli* Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Medan, Indonesia Diterima 20 Mei 2021; Direview 22 Mei 2021; Disetujui 01 Juni 2021 Abstrak Era disrupsi melahirkan perubahan besar dalam dunia seni rupa, dipicu oleh perkembangan teknologi digital-virtual dalam revolusi industri Artikel ini mengkaji tentang eksistensi seni rupa di era disrupsi. Sejauhmana teknologi berdampak dalam medan sosial seni rupa, apakah teknologi dapat mengancam eksistensi perupa atau seniman, dan apakah teknologi dapat mereduksi nilai-nilai karya seni rupa konvensional. Sejalan dengan metode deskriptif-kualitatif, pembahasan dilakukan berdasarkan pendekatan sosiologi seni, didukung dengan pendekatan visual culture dan kreativitas seni. Hasil kajian menjelaskan bahwa Pertama, teknologi era disrupsi secara umum berdampak positif dalam medan sosial seni rupa. Dalam medan sosial penciptaan, teknologi mendukung sistem kerja yang lebih praktis dan produktif. Dalam medan sosial penyajian seni, teknologi virtual sangat mendukung sosialisasi dan promosi karya secara luas. Begitu juga dalam medan sosial pengkajian seni, teknologi virtual dapat mengundang partisipasi masyarakat global. Kedua, teknologi tidak dapat menggantikan eksistensi perupa yang berorientasi ekspresi estetis, kecuali yang berorientasi menghasilkan karya fungsional. Secara umum, teknologi mendukung aktivitas kesenirupaan. Ketiga, nilai seni rupa tidak tereduksi oleh teknologi, karena nilai karya melekat pada karakter atau roh yang dilahirkan perupa, bukan yang dihasilkan teknologi. Kata Kunci Era Disrupsi; Dampak Teknologi; Medan Sosial; Seni Rupa Abstract The disruption era has created a big change in the visual art world, triggered by the digital-virtual technology development in Industrial Revolution This paper examines the existence of visual arts in disruption era how far technology impacts the social world of visual art, artists’ existence and the reduction of values of conventional visual art works. Along with the descriptive-qualitative method, the discussion is based on art sociology approach supported by the approach of visual culture and art creativity. The results indicate First, technology in disruption era generally impacts the social world of visual arts positively. In the social world of creation, technology supports a more practical and productive work system. In the social world of art presentation, virtual technology supports the art works’ socialization and promotion widely. The social world of art studies is the same that virtual technology can invite the global society’s participation. Second, technology cannot replace the artists’ existence orientated to aesthetic expression, except the ones orientated to making functional works. Generally, technology supports art’s activities. Third, the visual art values cannot be reduced by technology as the values are bound to the character or spirit the artists create, not the ones the technology creates. Keywords Disruption Era; Impacts of Technology; Social World; Visual Arts How to Cite Zulkifli, 2021. Seni Rupa di Era Disrupsi Dampak Teknologi dalam Medan Sosial Seni Rupa. Gondang Jurnal Seni dan Budaya, 5 1 2021 134-133. *Corresponding author E-mail zulkiflifbs ISSN 2599 - 0594 Print ISSN 2599 - 0543 Online Gondang Jurnal Seni dan Budaya, 5 1 2021 134-142. 135 PENDAHULUAN Era disrupsi merupakan era perubahan besar yang terjadi saat ini. Tidak hanya bagi sebagian orang, tetapi semua melakoninya dalam kehidupan dan aktivitas sehari-hari. Terjadinya fenomena perubahan masyarakat, dimana bergesernya aktivitas yang biasa dilakukan di dunia nyata kemudian beralih ke dunia maya, atau dengan istilah lain, perubahan dari cara manual menjadi digital dalam berbagai platform Harto, dkk., 2018. Clayton M. Cristhensen yang merupakan guru besar di Harvard Business School, dalam bukunya berjudul The Innovator Dilemma 1997 menjelaskan bahwa disrupsi merupakan perubahan besar yang mengubah tatanan Hidayat, 2019. Perubahan besar ini merupakan dampak dari revolusi industri yang ditandai dengan merebaknya penggunaan internet internet of things dan berbagai perangkat turunannya, yaitu robotika, virtual reality VR, dan kecerdasan buatan AI Rahmantio, 2020. Jaringan internet telah menghubungkan semua manusia yang hidup di dunia, untuk berkomunikasi dan berintegrasi secara global. Dunia sekarang ibaratnya sudah menjadi satu desa besar global village kata Marshall McLuhan. Konsep ini diperkenalkan McLuhan di awal tahun 60-an melalui bukunya yang terbit dengan judul Understanding Media Extension of A Man. Berangkat dari pemikiran yang jauh saat itu, bahwa kelak informasi akan sangat terbuka dan dapat diakses oleh semua orang dunia Wikipedia, 2018. Dalam pernyataan lain, Kenichi Ohmae mengatakan bahwa dunia sekarang merupakan dunia tanpa batas borderless world. Walaupun Ohmae menggambarkannya dalam perspektif keterkaitan ekonomi antar negara-negara di dunia, namun sesungguhnya juga terjadi dalam semua aspek kehidupan, termasuk sosial budaya Piliang, 2018. Istilah disrupsi sendiri berawal dari dunia bisnis atau pemasaran sebagai dampak dari inovasi teknologi informasi dan kounikasi Harto, dkk., 2018. Disrupsi adalah sesuatu yang positif, karena merupakan suatu kreativitas dan inovasi yang dinamis. Terjadinya perubahan yang menggantikan sistem lama dengan yang baru, cara kerja konvensional dengan yang lebih canggih sesungguhnya biasa dalam dunia seni, karena karakteristik seni hidup dalam dunia kreatif dan dinamis. Hanya saja bedanya sekarang, perubahan yang terjadi adalah perubahan besar yang dipicu oleh teknologi, yang tidak saja menjadikan aktivitas manusia menjadi mudah, juga dapat menyebar ke seluruh penjuru dunia. Konsekuensinya pada bidang seni, khususnya medan sosial seni rupa sangat kompleks, yang menuntut dilakukan pengkajian yang mendalam. Berdasarkan gambaran permasalahan di atas, artikel ini membahas bagaimana esistensi seni rupa di era disrupsi. Tujuannya adalah agar dapat mejelaskan secara komprehensif dampak teknologi terhadap eksistensi seni rupa di era disrupsi. Sehubungan dengan hal itu, ada beberapa pertanyaan besar yang harus dijawab. Pertama, sejauhmana teknologi berdampak dalam medan sosial seni rupa, mengingat, di berbagai bidang profesi sudah semakin kuat dampaknya. Kedua, apakah teknologi dapat mengancam eksistensi perupa atau seniman. Di bidang profesi lain, pegawai bank misalnya, terdisrupsi oleh mesin ATM yang sudah tersebar di banyak tempat. Kedepannya, diprediksi profesi advokat, dokter dan perawat di rumah sakit, dan lainnya akan terdisrupsi oleh robot-robot artificial intelligence Wisetrotomo, 2020; Wulandari, 2019. Ketiga, apakah teknologi dapat mereduksi nilai-nilai karya seni rupa konvensional. Walaupun banyak pertanyaan lain yang dapat dirumuskan, namun tiga pertanyaan di atas sudah mengcover permasalahan yang dibahas berdasarkan topik ini. Zulkifli, Seni Rupa di Era Disrupsi Dampak Teknologi dalam Medan Sosial Seni Rupa 136 Secara spesifik, pembahasan eksistensi seni rupa di era disrupsi dijelaskan dalam konteks medan sosial seni, atau istilah lain ekosistem seni. Medan sosial seni rupa art world merupakan jejaring masyarakat seni yang terlibat secara bersama-sama dalam aktivitas berkesenian Susanto, 2011. Keterlibatan dimaksud dapat secara langsung, atau tidak langsung seperti bagian dari proses atau aktivitas yang lebih dominan. Pembuat kanvas atau bingkai lukisan misalnya adalah bagian dari jejaring dalam penciptaan karya seni lukis, walaupun aktivitas utamanya adalah pada pelukis yang berkarya. Beberapa ahli memetakan medan sosial seni dalam model yang berbeda. Mikke Susanto memetakannya berdasarkan penciptaan karya seni, kritik seni, pengkoleksian seni, dan manajemen seni. Dalam hal ini, elemen-elemen dari medan sosial seni rupa dapat berupa galeri, museum, pendidikan seni, ruang seni alternatif, kolektor, kurator, kritikus seni, pembuat pigura, penonton pameran, dan lainnya Susanto, 2011. Ada juga yang memetakannya berdasarkan jejaring ekonomi, yaitu kelompok produksi, distribusi, dan konsumsi yang ketiganya saling terkait. Menurut Milton Albrecht, medan sosial seni berkaitan dengan sistem teknologi, misalnya pembuat cat dan kuas untuk seni lukis; sistem distribusi dan penyelenggara pameran, seperti galeri dan art dealer; sistem apresiasi dan kritik, dapat berupa karya tulis atau artikel seni rupa; serta pengamat atau apresiator seni rupa Susanto, 2011. Dengan model yang berbeda, Yasraf Amir Piliang memetakan medan kreativitas yang relevan dengan medan sosial seni, yaitu medan ekspresi, medan produksi, medan diseminasi, dan medan apresiasi Piliang, 2018. Berdasarkan model pemataan yang dipaparkan di atas, dalam pembahasan artikel ini diformulasikan menjadi medan sosial penciptaan, medan sosial penyajian, dan medan sosial pengkajian seni rupa. Medan penciptaan dengan sendirinya sudah mengcover medan ekspresi dan medan produksi sebagaimana dipetakan Piliang, serta mengcover semua elemen atau pihak yang mendukung proses penciptaan seni rupa. Medan penyajian sudah mengcover elemen seperti galeri, museum, ruang seni alternatif, dan peran art dealer, serta sistem distribusi, penyelengaraan pameran, diseminasi, dan aktivitas kuratorial. Kemudian medan sosial pengkajian, sudah mengcover medan dan sistem diskusi seni, apresiasi dan kritik seni, mengcover elemen pendidikan seni, kritikus seni, pengamat, dan apresiator seni. METODE PENELITIAN Sebagaimana lumrah dalam kajian sosial-humaniora dan seni-budaya, kajian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif. Sesuai dengan karakter permasalahan yang dibahas, pendekatan yang dikembangkan adalah multidisipliner, karena kajian sosiologi seni saling terkait dengan banyak aspek. Pendekatan utama yang kembangkan adalah sosiologi seni, didukung pendekatan visual culture dan kreativitas seni. Dinamika perkembangan seni rupa dari dulu sampai sekarang, dalam kaitannya dengan perkembangan teknologi tidak terlepas dari dinamika sosial-budaya masyarakatnya, yang secara khas mengungkapkan manifestasi estetis dan reaksi nilai atau respon kritis terhadap situasi dan kondisi sosial-budaya yang menjadi basisnya Himawan, 2013. Pemahaman inilah yang menjadi dasar pendekatan sosiologi seni. Sosiologi seni mengkaji berbagai aktivitas seni yang berkembang dalam masyarakat, sesuai dengan konteks sosial-budaya yang melingkupinya Jazuli, 2014. Kajian tentang dampak teknologi dalam medan sosial seni rupa, fokus permasalahanya berawal dari penciptaan karya seni, yang melahirkan berbagai ragam bentuk seni rupa. Dengan demikian, Gondang Jurnal Seni dan Budaya, 5 1 2021 134-142. 137 untuk mendukung pembahasan kajian dampak teknologi ini juga menggunakan pendekatan visual culture. Berbarengan dengan ini, ungkapan estetik perwujudan karya seni rupa tidak terlepas dari kreativitas perupa atau komunitasnya. Untuk melengkapi kajian yang komprehensif, juga didukung dengan pendekatan kreativitas. Teknik pengumpulan data adalah melalui studi pustaka, observasi, mencermati dan mencatat semua aspek yang terkait dengan permasalahn yang dikaji. Keterbatasan data dari observasi dilengkapi dengan data wawancara dan diskusi dengan pihak yang kompeten. Seni rupa sebagai budaya visual, dalam proses kajiannya membutuhkan dokumentasi berupa foto, untuk dibahas dan dipahami dengan cermat. Pengujian keabsahan data adalah berdasarkan triangulasi data, dengan membandingkan data dari sumber yang berbeda. Prosesnya dilakukan berbarengan dengan pengumpulan data, agar mendapatkan data yang sahih. Selanjutnya, untuk pengolahan data merujuk pada model interaktif, mulai dari reduksi data, penyajian data, sampai penarikan kesimpulan atau verifikasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Sesuai dengan permasalahan yang dipaparkan pada bagian awal artikel ini, hasil dan pembahasannya dirinci berdasarkan medan sosial penciptaan, medan sosial penyajian, dan medan sosial pengkajian seni rupa. Melengkapi kajian tentang dampak teknologi di era disrupsi, pembahasannya dirinci berdasarkan aspek hasil karya, bentuk karya, dan proses berkarya. Medan Sosial Penciptaan Pembahasan dampak teknologi dalam medan sosial penciptaan seni rupa pada era disrupsi meliputi persiapan berkarya, proses berkarya, dan penciptaan berbasis digital. Dalam proses persiapan berkarya, kesulitan-kesulitan masa lalu untuk mendapatkan bahan dan alat berkarya terdisrupsi dengan kemudahan memesannya secara online. Kesulitan ini umumnya dirasakan oleh perupa di daerah, yang jauh dari pusat perkembangan kesenirupaan, misalnya untuk mendapatkan cat lukis yang berkualitas, bahan batik yang bagus, peralatan ukir yang lengkap, dan sebagainya, yang sekarang semuanya telah menjadi mudah. Begitu juga dengan referensi, pada masa lalu perupa hanya mengandalkan buku atau majalah bergambar, sekarang sangat mudah di-searching di internet, di-download dan di-print sendiri. Artinya, sumber-sumber digital sudah memberi kemudahan bagi perupa dan membukakan kesempatan luas untuk berkreasi dan berekspresi Komalasari, dkk., 2021. Dalam proses berkarya, pengembangan konsep seni lukis atau patung misalnya, sangat mudah dilakukan melalui proses digital Zulkifli, dkk., 2020. Mudah dalam mengeksplorasi berbagai alternatif bentuk, melakukan distorsi, deformasi dan abstraksi, sampai melahirkan bentuk-bentuk tak terduga. Konsep berkarya semakin kaya melalui proses perumitan-perumitan bentuk. Terlebih lagi pada bidang desain produk, desain interior, desain komunikasi visual, desain arsitektur, dan sejenisnya. Pada masa lalu dibutuhkan peralatan mendesain yang beragam dengan meja dan ruang kerja yang luas. Interaksi desainer dengan klien dan berbagai pihak berlangsung secara fisik-material. Sekarang semua fasilitas dan aktivitas tersebut sudah terdisrupsi oleh komputer dengan berbagai program aplikasi, serta internet. Orang dapat berkerja secara mobile dengan tim kerja yang berada di tempat yang berbeda. Suatu proyek seni dapat dikerjakan oleh kolaborasi tim dari berbagai nagara, dengan tidak mesti bertatap muka langsung. Penciptaan karya yang sepenuhnya berbasis digital berkembang sejalan dengan perkembangan program aplikasi komputer yang relevan dengan bidang seni rupa dan desain. Awal pengaplikasiannya cenderung bersifat teknis, untuk mengatasi keterbatasan sistem kerja manual. Seiring perkembangan program aplikasi komputer, lahirlah berbagai jenis dan karakter seni rupa baru, yang Zulkifli, Seni Rupa di Era Disrupsi Dampak Teknologi dalam Medan Sosial Seni Rupa 138 sebelumnya tidak ada. Artinya teknologi digital berbasis komputer dan teknologi virtual berbasis internet melahirkan genre seni rupa baru. Jenis seni rupa baru ini misalnya dalam bentuk grafis komputer atau animasi komputer. Seni rupa ini eksis dalam dunia medan virtual-immaterial, diciptakan secara digital-virtual, didistribusikan secara virtual, dan dikonsumsi secara virtual melalui layar monitor laptop atau handphone. Dalam bahasa lain, genre seni rupa ini bersifat anti gravitasi. Tidak seperti seni rupa biasa yang eksis di dunia nyata-material, yang memperhitungkan aspek kekuatan dan daya tahannya terhadap gravitasi. Gambar 1. Medan Sosial Penciptaan Berbasis Digital-Virtual Sumber Medan Sosial Penyajian Dampak teknologi dalam medan sosial penyajian seni rupa telah membuka ruang dan kesempatan luas kepada para perupa untuk mensosialisasikan dan memperomosikan karyanya ke dunia global. Pada masa lalu, perupa menjalani proses dalam berkesenian, yaitu berkarya, berpameran, dan berkembang secara bertahap sehingga menjadi seninam terkenal. Perupa-perupa daerah berusaha untuk bersosialisasi dengan perupa di Jakarta atau Pulau Jawa yang merupakan barometer seni rupa nasional, dan mengadakan pameran bersama sehingga karya dan namanya mulai dikenal. Pameran dilaksanakan di suatu tempat di dalam ruangan dengan proses sosialisasi yang berjalan secara tatap muka langsung. Sekarang, pemeran dapat dilakukan secara virtual dengan tanpa batas ruang dan waktu. Masyarakat pengamat seni rupa dapat menyaksikan pameran ini dari mana saja mereka berada dan kapan saja waktunya, karena pamerannya dilaksanakan secara virtual di dunia tanpa batas borderless world, istilah Kenichi Ohmae. Dalam hal ini, ruang virtual virtual reality telah mengambil alih ruang-ruang fisik Piliang, 2018. Di era perubahan, era disrupsi ini, tidak heran banyak perupa muda yang langsung melejit namanya karena karyanya diapresiasi dan dihargai tinggi oleh pasar seni global. Mereka memanfaatkan berbagai potensi dari perkembangan teknologi untuk membentuk jejaring global, sehingga eksistensinya dikenal secara luas. Globalisasi digital mampu memobilisasi dan mengorkestrasi potensi-potensi yang ada dimana saja, untuk disatukan dan bergerak bersama Djatiprambudi, 2019. Di samping pameran secara virtual, medan sosial penyajian seni yang berkembang adalah promosi karya seni berbasis digital. Hal ini banyak dilakukan oleh perupa yang menawarkan karya kriya atau desain, yang orientasinya memenuhi kebutuhan fungsional sehari hari atau untuk pasar wisata. Sejalan dengan ini, adalah juga presentasi karya secara online. Presentasi karya dapat dimaksudkan sebagai promosi karya, atau sosialisasi karya sebagai bagian dari pembinaan apresiasi masyarakat. Perkembangan seni rupa kontemporer yang mengaburkan batas-batas bidang seni, yang melahirkan seni rupa pertunjukan performing art juga efektif disajikan secara virtual. Medan sosial penyajian karya seni rupa yang berdampak besar terhadap apresiasi masyarat adalah keberadaan galeri dan museum virtual. Tidak mudah bagi masyarakat Indonesia untuk dapat menyaksikan koleksi karya seni rupa di berbagai galeri atau museum terkenal dunia. Namun sekarang, kendala tersebut sudah terdisrupsi dengan dibukanya galeri dan museum virtual. Galeri dan museum yang menyimpan karya seni bersejarah dari maestro seni rupa dunia, sekarang mudah diakses oleh masyarakat pencinta seni. Penyajian karya dari galeri dan museum ini secara virtual sangat mendukung pembinaan apresiasi masyarakat. Lembaga pendidikan seni juga terbantu dengan adanya galeri dan Gondang Jurnal Seni dan Budaya, 5 1 2021 134-142. 139 museum virtual ini sebagai bagian dari sumber belajar. Untuk kebutuhan apresiasi yang maksimal, diakui memang melalui sajian karya secara langsung, seperti dalam pameran di dunia nyata-material. Dalam kondisi ini, pengunjung dapat merasakan langsung aura karya seni yang dipamerkan. Namun, pameran seperti ini hanya dapat disaksikan oleh orang yang hadir secara langsung juga. Karena terikat dengan ruang dan waktu, jumlah pengunjung pameran atau geleri dan museum secara langsung tentunya sangat terbatas. Ke depannya, medan sosial penyajian seni ini akan berkembang dengan saling melengkapi dua bentuk penyajian ini, yaitu yang bersifat nyata-material dan virtual-immaterial. Sudah biasa kita saksikan, dimana pameran dan diskusi seni rupa yang diadakan di suatu tempat pada momen tertentu, disajikan juga dalam bentuk vitualnya. Dengan cara ini, tujuan penyajian karya seni tercapai lebih optimal, baik sebagai wahana apresiasi langsung, ataupun untuk sosialisasi dan promosi karya secara global. Gambar 2. Pameran Virtual dalam Medan Sosial Penyajian Sumber Dok. Zulkifli, 2020 Medan Sosial Pengkajian Melalui medan sosial pengkajian seni, dampak teknologi membuka peluang bagi perupa dan pengamat seni untuk memberikan atau mendapatkan partisipasi dan kontribusi global. Dahulu, ketika diadakan seminar, diskusi atau bedah buku tentang seni hanya dapat diikuti oleh peserta yang sengaja hadir. Sekarang, karena dilaksanakan secara virtual atau online, masyarakat global dapat berperan serta. Betul kata Marshall McLuhan, dunia sekarang ibarat satu desa besar, yang semua orang dapat berintegrasi. Apapun kegiatan yang dilakukan dapat melibatkan masyarakat global. Oleh sebab itu, perkembangan ini harus direspon aktif oleh para perupa dan semua pihak yang terlibat dalam medan sosial seni rupa. Secara berkala komunitas perupa atau organisasi kesenirupaan dapat mengadakan diskusi, seminar, atau bedah buku kesenirupaan. Dengan media online atau daring biayanya lebih murah, tidak membutuhkan persiapan tempat dan biaya transportasi. Hasil dan dampaknya lebih luas, karena dapat diikuti peserta dari berbagai penjuru dunia. Sejalan dengan ini dapat juga dilakukan publikasi online, yang biayanya juga lebih murah. Dalam kaitannya dengan pengkajian seni, dibutuhkan pengelolaan data kesenirupaan yang rapi, aman, dan mudah diakses. Dalam hal ini, pengkajian seni rupa mestinya didukung oleh adanya big data kesenirupaan yang terkelola dengan baik, melalui media digital. Era disrupsi telah melahirkan dunia baru untuk mengembangkan medan sosial seni rupa. Perupa termasuk mahasiswa seni rupa harus memanfaatkannya dengan baik. Bisa saja medan penciptaanya, khususnya dalam proses berkarya dikembangkan secara manual di dunia nyata, karena bisa jadi suatu pilihan yang baik, namun medan penyajian dan pengkajian seni hendaknya dikembangkan berbasis digital di dunia virtual. Artinya, perupa harus eksis dalam dua dunia, karena medan sosial seni telah berkembang dalam dua dunia two globalizations, yaitu dunia nyata-material physical dan dunia virtual-immaterial non-physical. Inilah tantangan di era digital Wiflihani, 2021. Menolak dunia virtual-immaterial sepenuhnya tidak mungkin bagi perupa yang ingin eksis di zaman ini. Pilihannya adalah, dapat mengkombinasikan dua dunia ini hibrida, atau sepenuhnya virtual-immaterial. Medan seni rupa yang sepenuhnya virtual-immaterial contohnya adalah yang berkarya berbasis digital sebagai genre seni rupa baru, seperti grafis komputer atau animasi. Tentunya yang Zulkifli, Seni Rupa di Era Disrupsi Dampak Teknologi dalam Medan Sosial Seni Rupa 140 dominan adalah gabungan dunia nyata dan virtual. Tidak mungkin menolak kemudahan dan peluang besar yang ditawarkan dunia virtual untuk kemajuan dan kesuksesan perupa dalam karirnya. Melalui dunia virtual atau maya ini, manusia semakin mengandalkan jejaring dalam aktivitasnya untuk saling berinteraksi dan berkolaborasi, karena ini adalah era digital Wulandari, 2019. Gambar 3. Medan Sosial Pengkajian Seni Sumber Dampak Teknologi Secara Umum Pembahasan dampak teknologi, baik non-digital maupun digital-virtual menyangkut beberapa hal, yaitu hasil karya, bentuk karya, dan proses berkarya. Berdasarkan hasil karya, dampak teknologi dijelaskan dalam kaitannya dengan produktivitas dan kualitas karya. Dampak teknologi melahirkan produktivitas berkarya, karena memang semenjak revolusi industri di Inggris abad ke-18 orientasinya adalah untuk menghasilkan produk massal, yang pada awalnya melalui penerapan mekanisasi mesin pada produk tekstil, yang menciptakan model kerja baru Irwandi, dkk., 2019. Namun tidak semua teknologi berdampak terhadap kualitas karya, seperti pada pembuatan ulos Batak dan sulaman di Padang. Dalam hal ini, konsumen yang menginginkan kualitas lebih memilih produk yang dikerjakan secara manual oleh pengrajin, karena benangnya lebih padat dan rapi, dan yang pasti memiliki aura tradisi. Teknologi yang berdampak terhadap kualitas disamping produktivitas dapat dilihat pada karya kerajinan kayu, bambu, batu, dan sejenisnya di Bandung dan Yogyakata. Teknologi elektrik yang digunakan menghasilkan kualitas bentuk yang presisi, bersih, dan rapi. Berdasarkan bentuk karya, teknologi digital melahirkan bentuk yang berbeda, sebagai genre baru seni rupa. Bentuk baru ini ada yang sifatnya diam seperti grafis komputer, dan yang bergerak berupa animasi. Jenis seni rupa ini tidak dapat dikerjakan tanpa menggunakan basis digital. Kelebihan teknik digital diantaranya adalah mudah menggandakan bentuk dalam bentuk dan ukuran repetisi atau meroncet. Mudah melakukan deformasi dan distorsi, atau memanipulasi bentuk. Hal seperti ini sulit dilakukan dalam proses manual. Dalam hal ini, estetika yang selama ini dibangun oleh “penampakan fisik” aesthetics of appearance kini digantikan oleh “penampakan virtual” aesthetics of dissappearance Piliang, 2018. Dalam proses berkarya, teknologi melahirkan sestem kerja yang canggih, dan tentunya juga berdampak terhadap produktivitas yang tinggi. Teknologi 3D printing menghasilkan produk tiga dimensional, baik sebagai karya jadi ataupun sebagai prototyping. Studio 3D printing misalnya, melayani konsumen membuat patung atau miniatur dari modelnya, layaknya studio foto yang menghasilkan lembaran foto. Teknologi laser cutting mempermudah proses untuk memotong lembaran berbagai material, seperti plat besi, aluminium, akrilik, dan lainnya. Tidak hanya memotong, tetapi juga melobangi pola terawang, yang hasilnya banyak dipakai sebagai hiasan partisi dan eksterior fasade bangunan modern Zulkifli, dkk., 2021. Kemudian mesin ukir, yang mempermudah pekerjaan mengukir, yang dikhawatirkan dapat mendisrupsi profesi pengukir. Namun, apakah betul teknologi dapat menggantikan peran perupa atau seniman. Untuk karya seni rupa yang berkualitas Gondang Jurnal Seni dan Budaya, 5 1 2021 134-142. 141 tinggi adiluhung yang dihasilkan oleh perupa dengan tingkat keahlian craftsmanship tinggi tentunya tidak. Karena karya seni rupa seperti ini mangandung aura, yang tidak mungkin dilahirkan melalui mesin teknologi. Termasuk karya seni yang menekankan pada ekspresi estetis, tidak akan tergantikan oleh mesin yang berorientasi produktivitas dengan prinsip efisiensi. Namun bagi perupa yang berorientasi menghasilkan karya fungsional yang biasa juga dibuat massal, tentunya dapat tersaingi atau malah tergantikan oleh teknologi yang semakin maju. Karena dalam hal kepraktisan dan produktivitas, tentunya mesin teknologi lebih unggul dari perupa atau pengrajin. Yang pasti, tidak semua bentuk seni rupa berorientasi praktis dan produktif, dan tidak semua bentuk seni rupa terikat dengan teknologi. SIMPULAN Era disrupsi melahirkan dunia baru, dunia virtual-immaterial. Teknologi era disrupsi secara umum berdampak positif dalam medan sosial seni rupa. Dalam medan sosial penciptaan, teknologi mendukung sistem kerja yang lebih praktis dan produktif, walaupun tidak semua karakter seni rupa cocok dengan prinsip ini. Dalam medan sosial penyajian seni, teknologi berbasis virtual sangat mendukung sosialisasi dan promosi karya secara luas. Begitu juga dalam medan sosial pengkajian seni, teknologi virtual dapat mengundang partisiasi dan kontribusi masyarakat global. Teknologi tidak mengancam dan tidak dapat menggantikan eksistensi perupa yang berorientasi ekspresi estetis. Kecuali perupa yang berorientasi menghasilkan karya fungsional, dan tidak memiliki keahlian tinggi sehingga mudah terdisrupsi. Secara umum, baik teknologi non-digital maupun teknologi digital-virtual mendukung aktivitas kesenirupaan. Teknologi digital-virtual melahirkan dunia baru dan genre seni rupa baru bagi perupa berkarya. Kehadiran teknologi baru mesin/alat/media merupakan tantangan, dan sekaligus peluang baru bagi perupa berkarya. Nilai karya seni rupa bersifat dinamis dan adaptif, dimana seni rupa senantiasa menawarkan sesuatu yang baru, pengalaman baru. Nilai seni rupa tidak akan tereduksi oleh teknologi, karena nilai karya melekat pada karakter atau roh yang dilahirkan perupa, bukan yang dihasilkan teknologi. DAFTAR PUSTAKA Djatiprambudi, D. 2019. Reinvensi Budaya Visual Nusantara sebagai Basis Penciptaan Seni Rupa Kontemporer. In Seminar Nasional Seni dan Desain 2019 pp. 9-18. Universitas Negeri Surabaya. Harto, D. B., Dharsono, Haryono, T., & Sunarto, W. 2018. Memosisikan Bahasa Rupa VT sebagai “Pisau Analisis” dan “Konsep Berkarya” dalam Bidang Seni Rupa dan Desain, di Era Disrupsi. Prosiding SENDI_U. Hidayat, I. 2019. Tantangan Masyarakat di Era Disrupsi. Diunduh dari tanggal 18 Mei 2021. Himawan, W. 2013. Visual Tradisi dalam Karya Seni Lukis Kontemorer sebagai Wujud Artistik Pengaruh Sosial Budaya Kajian Terhadap Karya Haryadi Suadi dan I Wayan Sudiarta. Jurnal Ornamen ISI Surakarta, 10 1 57-75. Irwandi, E., Sabana, S., & Kusmara, A. R. 2019. Mempertahankan Eksitensi Kampung Kota melalui Mural di Era Disrupsi. Prosiding Seminar Nasional Unoflatu pp. 54-66. Bandung-Indonesia. Jazuli, M. 2014. Sosiologi Seni Pengantar dan Model Studi Seni Edisi 2. Yogyakarta Graha Ilmu. Komalasari, H., Budiman, A., Masunah, J., & Sunaryo, A. 2021. Desain Multimedia Pembelajaran Tari Rakyat Berbasis Android Sebagai Self Directed Learning Mahasiswa Dalam Perkuliahan. MUDRA Jurnal Seni Budaya, 36 1 96-105. Piliang, Y. A. 2018. Medan Kreativitas Memahami Dunia Gagasan. Yogyakarta Cantrik Pustaka. Rahmantio, A. 2020. Revolusi Industri Mengubah Tantangan Menjadi Peluang Di Era Disrupsi Diunduh dari Zulkifli, Seni Rupa di Era Disrupsi Dampak Teknologi dalam Medan Sosial Seni Rupa 142 tantangan-menjadi-peluang-di-era-disrupsi-4-0/.YKHIZqgzbIU tanggal 18 Mei 2021. Susanto, M. 2011. Diksi Rupa Kumpulan Istilah dan Gerakan Seni Rupa. Yogyakarta DictiArt Lab dan Bali Djagad Art House. Wiflihani. 2021. Penggunaan Media Audiovisual dalam Pengajaran Musik. Gondang Jurnal Seni dan Budaya, 5 1 119-126. Wikipedia. 2018. Desa global. Diunduh dari tanggal 18 Mei 2021. Wisetrotomo, S. 2020. Ombak Perubahan Problem Sekitar Fungsi Seni dan Kritik Kebudayaan. Yogyakarta Penerbit Nyala. Wulandari, S. 2019. Dekonstruksi Seni Rajut Kejut di Era Disrupsi. Journal of Contemporary Indonesian Art, 5 2 92-104. Zulkifli, Atmojo, W. T., Kartono, G., & Nurwani. 2021. Revitalisasi Identitas Melayu Studi Penerapan Ragam Hias Tradisonal Melayu pada Bangunan Modern di Kota Medan. Journal of Education, Humaniora and Social Sciences JEHSS, 3 3 895-903. Zulkifli, Sembiring, D., Atmojo, W. T., & Pasaribu, M. 2020. Tradisi dalam Modernisasi Seni Lukis Sumatera Utara Eksplorasi Kreatif Berbasis Etnisitas Batak Toba. MUDRA Jurnal Seni Budaya, 35 3 352, 359. ResearchGate has not been able to resolve any citations for this Melayu kaya dengan kesenirupaannya, khususnya dalam bentuk ragam hias. Secara tradisi, ragam hias Melayu banyak terungkap melalui arsitekturnya, di samping pada produk pakai lainnya. Yang menarik sekarang adalah adanya trend penerapan ragam hias tradisional Melayu pada bangunan modern di Kota Medan, Indonesia. Artikel ini mengkaji, sejauhmana identitas Melayu kembali menguat di Kota Medan. Selain itu, artikel ini juga mengkaji bagaimana potensi teknis dan estetis yang terkandung dalam karakteristik ragam hias Melayu. Pembahasan dilakukan melalui pendekatan sosiologi seni dan metode visual cultural. Hasil kajian menunjukkan bahwa 1 Bentuk dan karakteristik ragam hias Melayu yang banyak diterapkan pada bangunan modern di Kota Medan merujuk pada bentuk pucuk rebung, ricih wajid,lebah begantung, terali biola, bidai, dan tampuk pinang; 2 Potensi teknisnya didukung oleh karakteristik ragam hias Melayu yang berbentuk terawang, dan potensi estetisnya terungkap melalui bentuk permukaan yang rata dengan garis motif yang tajam; dan 3 Identitas Melayu melalui penerapan ragam hias terungkap pada bangunan perkantoran, tempat umum, lokasi wisata, dan fasilitas umum. Wiflihani WiflihaniThis article aims to explain the use of audiovisual media in learning music. To carry out teaching through audiovisual media, it is necessary to prepare a learning unit, choose the correct audiovisual media and adjust it to a musical instrument or teaching topic, to know the duration of the audiovisual media, which must be adjusted to the lesson hours. To prepare students, they are given a general explanation of the contents of the learning video, then they play back and prepare the equipment for a smooth learning experience. Follow-up After watching a film or video, the teacher also did examples of playing music, thinking, and asking questions to students to find out how well the students understood the sumber belajar konvensional saat ini lambat laun mulai beralih atau bertransformasi menuju pendekatan sumber belajar digitalisasi. Tujuan penelitian ini ingin mengembangkan protipe pembelajaran tari rakyat berbasis android yang dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa sebagai pendekatan pembelajaran self directed learning pada perkuliahan tari rakyat. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian pengembangan. Data penelitian diperoleh dari hasil studi dokumentasi dan studi literatur. Analisis data disajikan secara kualitatif untuk mendeskripsikan secara detail mengenai langkah-langkah proses penyusunan prototipe multimedia pembelajaran tari rakyat berbasis android. Temuan menunjukan bahwa protipe sumber belajar multimedia tari rakyat berbasis android yang dikembangkan memiliki karakteristik dalam mendorong mahasiswa untuk dapat melakukan belajar secara mandiri tanpa harus dibimbing dan dilatih langsung oleh dosen di dalam jam perkuliahan. Model media yang dikembangkan menyajikan beberapa menu pilihan belajar yang dapat diakses oleh mahasiswa melalui berbagai perangkat teknologi seperti komputer, laptop, seluler, dan lain sejenisnya. Zulkifli ZulkifliDermawan SembiringMangatas PasaribuArtikel ini membahas tentang sejauhmana potensi nilai dan karakter tradisional dapat dikembangkan sebagai tema garapan dalam eksplorasi kreatif seni lukis masa kini. Artikel berbasis hasil penelitian terapan ini, bertujuan menemukan bentuk dan wujud seni rupa tradisi yang khas, khususnya dari etnik Batak Toba, untuk dikembangkan secara kreatif dalam garapan seni lukis Sumatera Utara. Tujuan dimaksud diwujudkan melalui aplikasi teknologi digital serta rekayasa media dan peralatan melukis. Metode yang digunakan adalah survey dan metode penciptaan kreatif, mulai persiapan, inkubasi, iluminasi, eksekusi, konfirmasi, dan validasi. Analisis data disajikan dalam bentuk deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa eksplorasi seni lukis modern Sumatera Utara melahirkan karakter bentuk orisinil, sebagai penanda jati diri dan promosi budaya rupa etnik Batak Toba. Karakter seni lukis eksploratif ini berkontribusi pada pengayaan budaya rupa nasional. Hasil penelitian juga menemukan efektivitas penggunakan teknologi digital dan rekayasa media seni lukis, sebagai stimulasi penggunaan media alternatif dalam pengembangan model industri kreatif. Sari WulandariMemasuki revolusi industri di era postmodern, kini teknologi elektronik dan komputerisasi dan industri hiburan semakin berkembang ke arah otomasi proses produksinya dan mendorong tumbuhnya budaya massa, budaya populer sehingga banyak mengubah cara hidup manusia serta menimbulkan konsumerisme, mendorong munculnya kebutuhan semu dan menjadikan masyarakat hidup di dalam dunia simulasi, cenderung individualistik, teralienasi dan terfragmentasi. Komunitas RajutKejut sejak tahun 2014 melakukan aksi yarn bombing di ruang publik dengan rajutan karena kegelisahan atas kondisi kota Jakarta. Aktivitas ini merupakan bagian dari cara mereka menyalurkan kebebasan berekspresi dan menyatakan pendapat. Komunitas yang merupakan kumpulan perajut membuat jejaring dengan memanfaatkan media sosial dalam proses berkarya, mempublikasikan dan mendokumentasikan berbagai kegiatan. Banyak terjadi kontradiksi pada kemunculan karya seni ini di era postmodern di mana penggunaan seni rajut yang populer di masa lampau dikreasikan kembali dalam konteks masa kini disertai pemanfaatan teknologi digital. Penelitian ini mengkaji fenomena munculnya karya seni RajutKejut melalui metode penelitian Kualitatif dengan paradigma Postmodernisme yang dianalisis melalui Dekonstruksi seni RajutKejut di ruang publik pada era postmodern, untuk memunculkan dimensi-dimensi lain yang selama ini tertutup oleh paradigma modernisme. Kata kunci dekonstruksi, seni, rajut, postmodern Willy HimawanBudi Adi NugrohoPenelitian ini bertujuan untuk memahami pengaruh sosial budaya pada senilukis kontemporer. Penelitian dilakukan dengan studi kasus pada dua senimankontemporer Bali yaitu Wayan Sudiarto dan Haryadi Suadi. Penelitian dilakukandengan mengamati unsur-unsur tradisi dan modern seperti otonomi, kebebasan,dan progresitivitas menjadi elemen yang penting dalam karya – karya keduaseniman. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa seni kontemporersecara khas mampu menunjukkan manifestasi estetik dan refleksi nilai yang bersifatkritis terhadap sistem ekonomi-sosial-kultural yang menghidupinya. Walau karyaSudiarta dan Haryadi saling bertolak belakang, namun kedua karya seniman tersebutmemperlihatkan bahwa visualisasi tradisi pada karya-karya seni lukis kontemporerterkait dengan aspek-aspek seni rupa yang menjadi bagian dari konsep konsepbudaya visual. Keberadaan tradisi atau unsur-unsur tradisi yang muncul dalamkarya-karya tersebut masih dibaca dalam ranah identitas dan keunikan tetapi belummenyentuh ke dalam makna yang terkandung di dalamnya. The Visual Tradition on Contemporary Art Works as the Artistic Form of Socio-Cultural Influence. This study aims to understand the socio-cultural influences oncontemporary paintings. It is a case study of two contemporary Balinese artists, Sudiarto and Haryadi Suadi. The study is conducted by observing the traditionand modern elements such as autonomy, freedom, and progressivity which become theimportant elements of both artists’ artworks. Based on the research, it can be concludedthat the contemporary art is typically able to demonstrate the aesthetic manifestationand reflection of values which are critical toward the system of the artworks of Sudiarta and Haryadi are in contradictory, but both of theartists’ works show the visualization of tradition on the works of contemporary paintingsassociated with the aspects of arts which are a part of the concepts of visual culture. Theexistence of the tradition or traditional elements appeared in these works are still readin the realm of identity and uniqueness, but they have not touched into the Budaya Visual Nusantara sebagai Basis Penciptaan Seni Rupa KontemporerD DjatiprambudiDjatiprambudi, D. 2019. Reinvensi Budaya Visual Nusantara sebagai Basis Penciptaan Seni Rupa Kontemporer. In Seminar Nasional Seni dan Desain 2019 pp. 9-18. Universitas Negeri Bahasa Rupa VT sebagaiD B HartoDharsonoT HaryonoW SunartoHarto, D. B., Dharsono, Haryono, T., & Sunarto, W. 2018. Memosisikan Bahasa Rupa VT sebagai "Pisau Analisis" dan "Konsep Berkarya" dalam Bidang Seni Rupa dan Desain, di Era Disrupsi. Prosiding Masyarakat di Era DisrupsiI HidayatHidayat, I. 2019. Tantangan Masyarakat di Era Disrupsi. Diunduh dari 019/tantangan-masyarakat-di-era-disrupsi/ tanggal 18 Mei Kreativitas Memahami Dunia GagasanY A PiliangPiliang, Y. A. 2018. Medan Kreativitas Memahami Dunia Gagasan. Yogyakarta Cantrik Pustaka.